Minggu, 16 Juli 2017

Cara Membuat Darah Palsu (Update)




Jadi sekitar 3 tahun yang lalu aku sudah pernah membuat tutorial dengan judul yang sama Cara Membuat Darah Palsu. Tulisan itu dibikin saat aku masih jaman piyek dan belum ngerti macem-macem. Jadi kalo mau dihina sih aku maklum aja. Dan herannya kok ya tulisan yang banyak cacatnya itu bisa-bisanya dibaca puluhan ribu orang. 
 
boleh dong ya riya. Padahal sih tulisan lainnya cuma ratusan bahkan ada juga puluhan. Makanya kalian sering mampir dong.
 
Dan akhirnya aku jadi kepikiran juga dengan tulisan itu. Rasanya malah jadi beban, takut malah menyesatkan banyak orang. Jadi di tulisan kali ini aku mau meng-update cara membuat darah palsu. Dengan gambar yang semoga lebih enak dipandang. Dengan kata-kata yang semoga lebih runtut dan mudah mudah dimengerti. Dan juga dengan resep lain yang lebih mudah dibuat.





Untuk bahan yang digunakan, sederhana sekali. Kalian cuma butuh tepung maizena, pewarna makanan merah, kopi hitam dan juga air.





Pertama, campurkan 260 ml air dengan 2 sendok makan penuh tepung maizena. Campurkan hingga kedua bahan larut.


 Kemudian masak larutan mainena dan air tersebut diatas api kecil


 Aduk sesekali. Aduk lebih sering lagi jika larutan sudah mendidih, sambil mengecek kekentalannya.


Jika dirasa kekentalan sudah cukup, matikan kompor.



Tambahkan sekitar 1 sendok teh pewana makana merah. Dan juga 3/4 sendok makan kopi hitam bubuk yang sudah diencerkan dengan air panas.





Nah begitulah resep update-an ini yang jauh lebih sederhana ya. Kalo kalian merasa kurang jelas, kalian juga bisa nonton video cara bikinnya dibawah.




GIMANA KALO GAK SENGAJA KETELEN?

Gak usah khawatir, darah palsu ini aman baik disengaja maupun tidak untuk ditelan. Kan dibuatnya dari bahan makanan. Tapi mungkin ada juga yang masih ngerasa eneg gitu kalo mau masukkin mulut, kayak aku. Kan liatnya aja kayak mbayangin makan darah. Jadi berasa jijik gitu.

Tapi tenang, aku punya tipsnya nih. Kalian boleh tambahkan gula bubuk sebagai perasa. Atau bisa juga ditambah perasa lainnya yang kalian suka. Misal essence vanila, jeruk, dsb. Rasa yang ada dalam darah palsu kalian ini bisa membuat kalian merasa lebih nyaman. Dan juga menyadarkan kalian kalo itu tuh sebenarnya cuma makanan. Bukan darah beneran



BAUNYA KAYAK APA?, APA AMIS?

Enggak, baunya gak amis sama sekali. Ingat ya, ini cuma darah bohongan yang dibuat dari bahan makanan. Kalo darah beneran sih pasti amis. Kalo ini malah bau kopi.


NINGGALIN NODA GAK YA?

Iya, karna pake pewarna makanan. Jadi ada stain yang nanti bakal tertinggal. Baik di kulit maupun di baju. Untuk kulit, gampang aja cara bersihinnya, tinggal cuci sekali pake sabun udah langsung bersih. Kalo dibaju kayaknya tergantung jenis kainnya. Ada kain yang dibilas air aja udah hilang. Tapi ada juga yang nempel. Kalo aku sih buat jaga-jaga pake baju warna gelap aja, beres.


KENAPA KOK PAKE KOPI HITAM?

Jadi fungsi kopi itu untuk membuat warnanya lebih gelap. Biar lebih mirip dengan darah asli. Bisa aja sih kalo kalian pake kopi susu, tapi nanti warnanya gak terlalu gelap. Atau bisa juga diganti dengan pewarna biru.


NANTI BAKAL KERING GAK ADONANNYA? 

Enggak, gak bakal kering kerontang kok. Tapi lama-lama nanti akan membeku, mengeras, dan jadi menggumpal gitu. Kalian bisa bandingkan foto darah yang baru dibuat di foto disini dan juga foto darah yang sudah cukup lama didiamkan disini. Bisa dilihat foto darah kedua yang menggumpal. Jadi lebih baik langsung digunakan ya.


BOLEH NIPU ORANG LAIN PAKE DARAH PALSU?

Boleh dong, emang tujuan dibuatnya darah palsu ini kan buat nipu orang. Tapi ingat, lalukanlah penipuan yang juga bermanfaat untuk orang lain. Misalnya, membuat darah palsu menyembuhkan teman kalian yang phobia dengan darah. Jangan malah dibikin pingsan ya. Untuk selebihnyasih terserah kalian bentuk penipuan yang seperti apa, tapi harap diingat silahkan pertanggung jawabkan dampak baik dan buruknya sendiri-sendiri ya.



Dibawah ini adalah contoh penggunaan darah palsu





Kamis, 01 Juni 2017

Benar dan Salah dalam Batasan Kepercayaan



Sebelumnya perkenalkan, aku adalah seorang anak yang lahir di sebuah kota kecil bermayoritas Muslim. Yang sangking terkenal kereligiannya, kotaku ini sering disebut sebagai kota santri. Dikotaku, adalah sebuah kemustahilan jika seorang anak yang lahir dari keluarga muslim tidak pernah belajar mengaji. Sejak kecil anak-anak disini sudah dititipkan ke TPQ. Tiap sore belajar mengaji. Malampun, kadang masih bermain-main di langgar.

Meskipun pada akhirnya, tidak semua anak tumbuh sealim yang diinginkan orang tuanya. Tapi setidaknya, setiap Jumat, masjid-masjid penuh oleh jamaah. Jalan trotoalpun dibuat ibadah. Karna masjid tak dapat menampung jamaah yang melimpah. Jalanan sepi setelah masuk waktu shalat. Tidak ada kendaraan yang berlalu lalang, kecuali jika sangat terpaksa. Kendaraan umum yang beroperasi, juga berkurang jumlahnya. Semuanya menghormati. Para laki-laki muslim pergi ke masjid. Anak-anak kecil berpecipun meramaikan, meski hanya senang begurau dengan teman saja. Sedang yang perempuan, tabu untuk keluar rumah. Yang tidak ke masjid pun haram untuk mengganggu.

Tiap bulan puasa. Warung juga jarang beroperasi. Kalaupun beroperasi, warung itu biasanya ditutup tirai hingga yang terlihat hanya bagian betis kebawah. Di sekolahan pun sama. Kantin cuma dibuka seperdelapan pintu. Yak, cuma ada sedikit celah yang dibuka. Bahkan kadang, ditutup total. Hanya minimarket yang masih bertahan. Dengan makanan dan minuman yang dibalut dengan kemasan dan merk.

Yang tidak puasa, baik yang non muslim, perempuan yang sedang berhalangan, dan juga yang lainnya. Kadang, juga ikut separuh berpuasa. Berpura-pura seperti orang puasa sejenak. Ikut juga menahan segala nafsu sejenak. Tabu, untuk makan dan minum di depan umum. Sebagai manusia dewasa, kami harus bersembunyi dulu untuk sekadar memasukan sesuatu ke dalam mulut. Mengunyah dan menelan dengan hati-hati. Atas dasar menghargai yang berpuasa.

Terlebih, 12 tahun orang tuaku menyekolahkanku di sekolah Islam.  Membuat penglihatanku sedikit buram akan perbedaan keyakinan. Sejak umur 3 tahun, aku sudah belajar menghafal hadits dan surat pendek. Hingga SD dan SMP. Aku baru merasakan rasanya sekolah negri setelah aku masuk SMA. Aroma kebebasan, dimana tidak akan ada guru yang memaksa pergi ke masjid saat makan siang belum sepenuhnya bersih. Tidak ada lagi yang menodong hafalan surat dan terjemahnya. Apalagi guru perempuan yang merogoh pantat siswi, untuk memastikan mereka benar-benar menstruasi.

Kebebasan, tapi sebenarnya tak sepenuhnya bebas. Bahkan kadang, beberapa hal terdengar konyol. Saat kelulusan hampir dekat salah satunya. Saat itu kami berdoa, dengan botol air minum terbuka di depan muka. Katanya, keberkahan akan mengalir saat kami teguk airnya. Itu terdengar menggelikan ditelingaku. Bukankah Tuhan juga bisa memberikan keberkahan tanpa perantara. Bahkan beberapa hal seolah Ia jatuhkan dari langit begitu saja. Tapi dibalik itu semua, aku belajar, meskipun kami menyembah tuhan yang sama, tapi cara pandang kami dalam beribadah kepada-Nya bisa saja berbeda. Dan itu menyenangkan.

Setelah itu aku memutuskan kuliah di luar kota. Di kota besar yang mendapatkan prestasi sebagai salah satu kota terpadat di negeri ini. Sudut pandang baru yang luar biasa aku dapat. Hal yang bahkan tidak pernah aku harapkan. Menjadi hadiah paket pembelajaran paling istimewa dari Tuhan.

Kebetulan, aku kuliah di tempat yang sangat multikultural. Bukan hanya anak Jawa seperti yang biasa kulihat. Aku belajar dan tinggal dengan orang dari berbagai daerah. Dari yang ada di ujung Sumatra hingga sulawesi. Dari sinilah, aku belajar banyak dari perbedaan. Perbedaan bahasa, logat, budaya, agama hingga kepercayaan.

Lingkungan tempat tinggalku juga berbeda. Jika dirumah, aku sudah tidak asing dengan bacaan pujian menjelang adzan. Sekarang, hal itu menjadi langka ditelinga. Terlebih, karna letak asramaku cukup jauh dari masjid. Sehingga telinga kami sedikit kesulitan menangkap suara adzan yang keluar. Atau mungkin, corong masjid yang kurang besar untuk menjangkau jarak.

Sekarang, bisa dibilang aku tinggal di lingkungan ‘Katolik’. Sangat berbeda jauh dengan lingkungan rumahku yang sudah kisaran 10 tahun kutinggali. Yang mana belakang rumahku ada masjid dan madrasah. Lapangan belakang rumahku juga seringkali digunakan untuk acara keagamaan islam. Tapi sekarang, kebalikannya. Tidak ada masjid, tapi gereja besar dan di sampingnya kompleks sekolahan katolik. Beberapa langkah dari situ, ada klinik dan apotik katolik. Tiap minggu pagi dan sabtu malam, aku jadi terbiasa dengan jalan yang tiba-tiba penuh, jadi tempat parkir dadakan. Mobil-mobil berjajar di ruas jalan. Hingga depan asrama penuh jadi parkiran.

Pemandangan yang sama seperti saat kami umat muslim beribadah. Tapi sekarang, aku bukan lagi melihat ‘kami’. Tapi ‘mereka’, yang beribadah. Apalagi kalau kebetulan aku harus pergi ke minimarket untuk membeli beberapa barang. Melewati gereja yang juga kebetulan diadakan ibadah. Berjalan diantara lalu lalang orang yang melangkahkan kaki dengan damai. Mencari keberkahan dari tuhan yang mereka yakini. Aku menerka, mungkin, gereja yang luas itu sekarang sudah penuh dengan jamaah.

Dengan kerudung yang masih di kepala. Sejenak, aku merasakan rasanya jadi kaum minoritas.

Setelah merasakan bulan puasa di lingkungan baru. Aku juga merasakan keganjilan yang membuat heran. Yang kadang, membuatku lupa, bahwa ini Ramadhan. Tapi tak jauh beda dari hari biasanya. Orang terlihat lebih bebas makan dan minum ditengah bulan puasa. Sadar melakukannya, tanpa merasa terpaksa. Tanpa perlu berpura-pura. Apalagi merasa dihakimi, padahal mereka dewasa yang harusnya mengerti. Warung dibuka tanpa perlu ‘dikrukupi’. Warung telanjang, mempertontonkan makanan menggoda. Sedang beberapa orang terlihat santai mengunyah sesuatu dalam mulutnya.

Dan ajaibnya, aku justru merasakan perasaan yang lebih dari Ramadhan sebelumnya. Dengan membiarkan orang lain yang tidak berpuasa melakukan kegiatannya tanpa terbebani. Dengan membiarkan waktu siang dengan warung disekeliling. Ada perasaan seolah jiwa menjadi lebih kuat. Lebih kuat dalam menahan, dan juga menghargai.

Aku jadi mengerti, ada kalanya, kami juga harus menghargai mereka yang tidak puasa. Bukan hanya selalu meminta untuk dihargai, sebelah pihak.

Setiap hari jumat, yang tak kalah mengherankan. Di bulan pertama setelah perpindahan. Aku berkhayal, kota yang sering macet ini mendadak sedikit lenggang saat Jumat siang. Bukankah itu terlihat luar biasa. Menikmati kelenggangan kota sibuk ini sejenak. Jalanan lebar yang akhirnya terasa lebarnya. Jalanan yang lebih tenang dari derum motor. Namun ternyata, itu hanya khayalanku saja. Realitanya, ibadah Jumat tak benar-benar bisa membuat kota ini sepi. Jalanan masih sama ramainya. Angkutan umum beroperasi seperti biasa. Manusia berlalu lalang tanpa rasa bersalah. Mitos keburukan perempuan yang diluar rumah saat jumat siang terpatahkan. Hal yang sedikit membuatku tersentak. Benar, ternyata jumlah penduduk yang melimpah ini tak bisa tiba-tiba menyusut hanya karna ibadah jumat.

Lagi-lagi….
Bukankah orang yang ingin mencari nafkah juga harus dihargai. Bukankah orang yang ingin beraktivitas juga perlu dihargai.

Kadang kita terlalu meninggi, merasa yang paling benar, merasa yang paling dekat dengan Tuhan. Selalu ingin dihargai. Tapi lupa menghargai. Bukankah ibadah itu banyak jenisnya. Bukankah setiap manusia berhak untuk memiliki caranya sendiri dalam melakukan kebaikan, hasil dari pemikiran otak kanannya.

Memang sulit dimengerti. Sebab mungkin, kita terlalu lama dalam kotak yang sama. Terhalang dinding yang tak terlihat, untuk memandang lebih jauh. Tapi sebenarnya, dunia lebih luas dari pemikiran kita. Dunia punya warna yang beragam. Membuat dunia terlihat lebih indah, dalam harmonisasinya.

Bukankah benar dan salah itu hanya sebatas kepercayaan yang kita yakini.

Selasa, 28 Maret 2017

Spring Makeup Colaboration KBBV


Hello, kali ini aku berkolaborasi dengan komunitas beauty blogger & vlogger (KBBV). Dengan temannya yaitu spring makeup. Alias dandan ala-ala musim semi. Wah... seru banget kan temanya.


Untuk kalian yang mau gabung bisa gabung  di sini


Biasanya, makeup musim semi identik dengan warna-warna cerah. Seperti warna-warna bunga yang indah, merah muda, biru, kuning, ungu atau hijau seperti daun yang baru tumbuh. 

Kali ini, aku ingin membuat look musim semi yang terlihat cerah dan ceria. 



Yuk, kita lihat detail make-upnya.



  • Disini aku menggunakan warna merah muda dan kuning di bagian kelopak mata. Menurutku perpaduan warna ini sangat cocok, seperti warna beberapa bunga saat  mulai semi. 
  • Sedangkan untuk mempertegas cut crease atau lipatan mata aku menggunakan warna coklat dengan bauran yang tidak terlalu halus. Sehingga warna pink dan kuning dikelopak mata tetap menonjol. 
  • Di sudut dalam mata aku menggunakan warna putih yang berkilau. Ini penting sekali untuk membuat mata menjadi lebih lebar dan kerkilau. Sehingga unsur cheerfull semakin terlihat.
  • Aku juga memberi campuran warna pink muda dan putih di bawah mata. Yang membuat mata makin berkilau.
  • Di ujung luar mata, aku menambahkan warna hijau muda. Aku menambahkan juga di ujung bawah.
  • Kemudian aku memberi tiga buah garis warna hijau muda disudut luar mata dengan cat facepainting. Aku baurkan lagi cat tersebut dengan eyeshadow pink dan kuning agar lebih halus.
  • Terakhir aku menempelkan Glitter hijau di sudut dalam dan ujung luar bawah mata.




Untuk sentuhan terakhir, aku memulaskan blush-on berwarna sedikit merah dengan cukup banyak. Untuk membuat wajahku terlihat lebih cute dan cheerfull. Aku juga memberi highlight cukup banyak agar wajah terlihat lebih cerah dan berkilau.
Terakhir, untuk lipstik, aku memilih warna pink cerah agar kesan bunga di musim semi semakin menonjol.


Ini beberapa extra foto hasil dari look ini
Maafkan kalo posenya susah cheerfull. Bawaan dari sananya memang lebih mudah begitu. Hehe.







Terima Kasih ya yang sudah mampir di blog ini.


Kamis, 02 Februari 2017

Mila Digendam (Part 3)




Setelah berhasil turun dari bus. Bapak itu menuntunku memasuki sebuah gang. Sebenarnya, waktu itu aku sudah mau minta tas aku balik. Karena aku tipe manusia yang memang gak enakan ngebiarin orang lain ngebawa barang aku terlalu lama. Tapi sialnya, aku sendiri masih ribet dengan tas kresek aku, dan kepalaku sedikit pusing karena terhimpit tadi. Jadi aku pikir, lebih baik aku diem dulu aja ngikutin dia.

Ternyata baru sebentar jalan. Aku disuruh berhenti, dan nunggu di depan gang. Katanya dia mau manggil kakaknya yang masih ada acara selametan di rumah mertuanya. Lha, kenapa aku gak disuruh ikut aja ya?. Ah, mungkin gak enak kali kalo tiba-tiba bawa orang gak dikenal. Tapi, kenapa juga harus ninggalin aku didepan gang. Siang panas-panas gini juga. Kenapa gak suruh nunggu di dekat rumahnya aja. Oh ya, kan tadi katanya mau ambil mobil. Mana mobilnya?, diparkir dimana?. Di gang sesempit ini masak bisa mobil masuk?. Apa aku sedang dibodohi?. Gak, gak mungkin, positif thinking mil. Aku masih tegak berdiri saat itu, dengan banyak pertanyaan dikepala. Sedangkan bapak itu sudah makin ngejauh dari aku.

Eh, barulah aku dengan kegoblokan lengkap beserta ketololanya. Menyadari kalo tas aku masih dibawa bapak itu.

Terbersit dipikiranku buat ngambil tas aku. Ya paling gak, aku ambil handphonenya kan buat ngehubungin seseorang. Terutama ibu aku yang pasti bakal nyariin.

Tapi, entah karena aku udah terlalu bingung dengan alur tiap kejadiannya. Atau karena hal lain. Ada rasanya detik dimana pikiran aku berhenti mikirin hal yang memusingkan itu. Mendadak blank gitu.

Bayangin nih, kalo kamu disuruh berfikir logis. Disaat kamu masih berusaha ngecerna sesuatu. Dan di saat yang sama. Kamu juga disuruh milih antara percaya atau gak percaya. Dan saat yang sama pula, otakmu maksa buat kakimu bergerak dan mulutmu bicara. Padahal, si otak yang maksa tersebut, lagi pusing buat memahami hal yang sulit untuk diuraikan.

Dan tau kan jadinya. Gak ada yang bekerja sama sekali. Jadinya… aku cuma melongo. Bener-bener diam gak ngapa-ngapain. Blank gitu aja. Sampek detik dimana aku sadar kalo si bapak itu udah hilang dari pandangan ku, dan masuk ke dalam gang berliku.

Setelah menyadari kegoblokan tersebut. Kegoblokan aku selanjutnya adalah gak langsung nyusul buat ngejar dia. Aku malah ngadem di sebuah warung yang lagi tutup. Karna hari itu bener-bener panas.Dan aku bingung sementok-mentoknya. Aku emang kalo udah mentok bingung kebiasaan duduk dulu. Ngademin badan. Jadi kayaknya aku butuh air biar otakku berjalan lagi. Tapi karna saat itu bulan puasa, jadi ngadem ajalah. Diriku lelah.

Dan ditempat itulah. Dengan sisa-sisa harapan, aku berdoa dan memositifkan pikiran. Semoga itu bapak masih orang baik, yang bakal kembali beberapa menit lagi.

Iya, sebodoh dan sepasrah itu diriku. Mungkin diriku sudah terlalu lelah

Ada sekitar 5 menitan lebih aku masih tenang-tenang aja. Tenang banget kayak orang lagi ngadem biasa. Gak ada perasaan bersalah. Sampek akhirnya aku sadar, dan tiba-tiba pengen nangis.

Kacau. Pikiranku gak karuan. Aku sadar kalo sekarang aku gak punya apa-apa. Cuma kresek yang isinya tas macrame yang baru separuh jadi. Yang lainnya gak ada. Dompet, HP, peralatan makeup, headpiece semua ada di tas ransel aku. Aku sadar aku gak punya apa-apa.

Padahal, besok aku udah janji makeupin temanku. Tapi peralatan makeup dan headpiecenya gak ada. Dirumah, ibuku pasti udah nyariin, tapi HP juga gak ada. Gimana caranya aku pulang, kalo duit juga gak punya?. Cuma ada kembalian uang dua ribu dari ongkos tadi. Aku gak punya apa-apa lagi.

Tapi, aku masih berusaha nenangin diri dan bersikap biasa. Aku ngerasa orang bodoh yang terlalu percaya sama harapan. Aku coba menyusuri gang yang bercabang banyak itu. Berkali-kali. Sambil berharap pikiran buruk itu hanya imajinasi. Tapi, tetep aja, gak ada batang hidung bapak itu.

Karna udah lelah, dan ngerasa gak ada harapan. Aku memberanikan diri tanya ke mas-mas yang kebetulan sedang nusuk daging sate di sekitar situ.

Dengan suara sedikit serak dan kepasrahan nahan air mata. Tanyalah diriku ke mas-mas tersebut. Dengan mendeskripsikan ciri - cirinya. Tapi masnya bilang gak tau. Dan malah manggil seorang bapak yang sepertinya adalah pemilik rumah makan sate tersebut. Baru aja bapak itu tanya ada apa?. Aku udah sesegukan, air mata aku udah banjir meleleh. Akhirnya aku ceritainlah kejadiannya. Bapak itu langsung bilang, kalo itu namanya digendam.

Jujur, saat itu aku gak terlalu faham yang namanya gendam. Karna setauku gendam itu sihir yang terjadi dengan perantara sentuhan. Sedangkan, tadi kayaknya aku gak ada kontak fisik sama sekali. Dan sejujur-jujurnya, aku itu bukan orang yang percaya dengan hal mistis kayak gitu.

Gak lama, muncullah seorang ibu-ibu tua yang ngedekat dan tanya ada apa. Setelah dijelasin, ibu tua itu bilanglah. Kalo dia tadi ngelihat orang dengan ciri yang sama seperti yang aku sebutkan. Dan jalan melewati gang (sambil nunjukin jalan yang dilewatinya).

Tanpa basa-basi. Aku hapuslah air mata aku, dan langsung berdiri, terus jalan ke arah gang yang sudah ditunjukkan ibu tadi. Si bapak yang punya rumah makan agak kaget ngeliat sikapku. Dan tanya, mau kemana. Aku jawablah kalo mau nyari orang tersebut. Yakan barang kali dia masih nyangkut disitu. Atau setidaknya, ada sedikit petunjuk.

Jalanlah aku melewati gang itu. Nolah-noleh. Tapi gak ada petunjuk. Sampek akhirnya aku sampek di ujung gang. Booomm…. Yang ternyata adalah jalan raya.

Jadi, dari sini kita bisa disimpulkan. Bahwa bapak tersebut mutlak seorang penipu. Yang membawa isi tas aku. Dan melarikan diri lewat gang yang tembus ke jalan raya.

Oke, dari sini aku udah sedikit tenang. Bodoh!, harusnya aku sedih atau keselkan. Tapi bener kok, aku rada tenang karna akhirnya semua pertanyaan aku terjawab. Dan aku bisa membedakan mana yang sebenarnya imajinasiku, dan mana kenyataan.

Baru juga tenang, aku ngelanjutin nangis lagi. Gimana aku bisa pulang?. Kenapa dia harus juga bawa barang-barang kesayangan aku?, yang aku perjuangkan dan kumpulin dalam waktu yang lama. Huahhh… besok makeupinnya gimana, padahal udah janji.

Karna aku udah bingung dan hilang arah. Aku balik lagi ke tempat dimana aku bertemu mas-mas dan bapak yang aku tanyain tadi. Belum aku sampai ke tempatnya, aku udah dipanggil sama bapak tersebut. Datanglah aku. Dan dengan baiknya, dia suruh aku duduk. Bahkan aku ditawari minuman. Tapi sayangnya aku lagi puasa. Terus dia tanya rumahku dimana. Ada uang gak. Nawarin telpon juga. Tapi aku tolak, karna takut kalo nanti aku telpon, ibuku bakal lebih khawatir. Selain itu, dia juga kasih aku uang yang sangat berlebih banget kalo buat aku ongkos ke rumah.

Gak cuma bapak itu aja sih, banyak juga orang yang nawarin telpon dan kasih aku uang. Dan karna bantuan dari mereka semua. Aku bisa pulang, dengan selamat.

Ternyata, manusia yang baik itu jumlahnya lebih banyakkan.





Jadi… pesan aku untuk kalian semuanya, berdasarkan pengalaman tersebut adalah:
  1. Pake baju dulu sebelum dandan.
  2. Jika berada di tempat umum, pastikan barang berharga melekat dengan tubuh anda.
  3. Jangan bawa uang berlebihan. Lebih baik simpan uang di atm, karna jauh lebih aman.
  4. Jangan bawa barang terlalu banyak yang mebuat ribet.
  5. Jangan mau ongkos kalian dibayarin sama orang yang gak dikenal.
  6. Berhati-hatilah dengan orang yang berbicara perkataan yang berulang-ulang. Karna secara tidak sadar, mereka berusaha memperaruhi pikiran kalian.
  7. Jangan terlalu mikir, karna kalo banyak mikir, kalian bakal bingung.
  8. Kalo hal ini terjadi pada kalian, segeralah sadar dan bertindak. Jangan malah cari tempat adem.
  9. Kalo gak lagi puasa, pastikan kalian bawa air minum. Biar konsen. Kaya iklan aqua.
  10. Kalo pengen nangis, nangis aja. Kalo butuh orang lain, bilang aja.
  11. Jangan lupa banyak sedekah, mungkin ini merupakan peringatan.

Jumat, 13 Januari 2017

Mila Digendam (part 2)






Nggak sehoror bayanganku. Karna nyatanya aku masih bisa berusaha membuat pikiranku tenang. Sementara bapak itu melanjutkan ceritanya, yang aku yakin sempat diurungkan karna sikapku sebelumnya. Saat itu aku mendadak ketiban mas, adik, bapak wahyu dari langit. Aku keinget materi attitude yang belum lama aku dapat dari kampus. Yang saat itu dosenku berulang kali bilang jangan terlalu menaruh prasangka buruk pada orang. Apalagi nasihat itu selaras banget dengan nasihat kakek aku Bob Sadino, yang amat aku junjung tinggi tiap kata motivasinya. Wk… Dan jadilah aku rada luluh. Dan mulai mendengar cerita bapak itu dengan lebih perhatian.







Jadi, disepanjang perjalanan, si bapak itu masih tetap cerita tentang keponakannya yang meninggal dan katanya mirip sama aku. Dia mengulang kata-kata yang sebenarnya tadi udah aku dengerin di gerbang masuk. Aku gak ngerti juga kenapa dia ngulang kalimat yang intinya sama. Apa dia nganggep aku tadi gak terlalu memperhatikan?. Atau dia cuma ingin lebih meyakinkanku?.


Didalam bus, dia cerita lagi tentang foto yang ada di mobilnya yang katanya mirip sama aku. Terus sekali lagi, dia bilang kalo mobilnya itu di bawa sama kakaknya yang ibu dari keponakannya itu.


Nah, ceritanya sama kan kayak sebelum kita naik bus.

Terus dia ceritalah tentang keponakannya yang dulu sering minta uang buat inilah buat itulah. Terus dia bilanglah aku juga kalo bisa nganggep dia sebagai Om-nya. Aku sih ngeiyain aja, sambil senyam senyum mesam mesem. Lagian apa salahnya sih ngebahagiain orang, apalagi di bulan puasa. Lagi pula kayaknya itu orang cuma pengen aku berlagak seolah aku ’keponakannya’.


Yak, sikap aku berubah drastis ya. Aku yang tadinya cuek dan galak, jadi berubah iya iya aja. Saat itu sih aku mikirnya gak mau terlalu menjadikan hal negatif memenuhi otakku. Lagian, aku juga udah kejepit. Aku duduk udah kejepit sama badan si badak yang gede. Jadi, mikirin yang positif aja deh. Berusaha baik ajadeh. Selagi tangannya gak nyentuh dan melukai aku setitikpun, gak ada masalah.


Tapi dibalik itu, sebenarnya isi otakku sudah jauh berputar. Banyak pertanyaan yang ngeganggu isi otakku. Tapi aku tahan aja, gak enak kan kalo tiba-tiba tanya macem-macem. Padahal penasaran banget. Itu keponakannya meninggal umur berapa?. Apa sudah lama meninggalnya?. Klo misalkan dia masih hidup kira-kira umur berapa?. Meninggal karna apa?. Apa yang menyebabkan dia sampek dianggap mirip aku?. Ibu dari keponakannya itu mukanya kayak gimana?, kok bisa adiknya setua ini?.


Jujur, pertanyaan terakhir itu yang paling bikin bingung. Sampek rasanya opini-opini di kepalaku bentrok saling tampar-tamparan.


Masak manusia yang lebih pantas aku panggil 'Pakde’ malah minta aku buat manggil ‘Om’?.


Sudahlah, abaikan isi otak dan pertanyaan bodohku itu. Lanjut ke cerita bapak itu. Setelah itu, dia juga bilang. Kalo misalkan kakaknya itu bisa ketemu sama aku, pasti kakaknya bakal seneng sekaligus nangis. Dia juga minta, kalo boleh, sebelum pulang aku ketemu dulu sama kakaknya, sebentar aja. Disini aku mulai merasa lebih emosional. Aku gak tahan kalo udah ngebicarain ibu yang pengen ketemu anaknya. Otak kiriku mulai bekerja, ngebayangin ngeliat seorang ibu yang nangis haru karena ngeliat manusia yang mirip dengan anaknya yang udah meninggal. Ihhh… sosweet kan…. Jadi, apa salahnya kalo aku jadi bagian dari ke sosweetan ini. Aku anggukin ajalah omongan bapak itu.

Terus dia juga tanya tentang diriku. Kuliah dimana?. Tinggal di surabaya dimana?. Kalo kuliah biasanya naik apa?. Tinggal di pasuruan dimana?. Nanti bakal turun dimana?. Udah berapa lama tinggal di surabaya?. Sampek kerjaan ayah aku ditanyain. Ishh… jujur, sebenarnya aku rada males ditanyain sampek ke kerjaan ayah aku. Sampek segitunyakah dia harus tau tentang kerjaannya?. Dikira sensus. Apapun kerjaannya, harusnya gak terlalu penting bagi dia.

Tapi, aku herannya, kenapa dia lebih memilih pilihan kata. ‘Bapaknya dinas dimana?’. Seolah dia taunya bapak aku seorang pegawai sipil. Gak terlalu mengherankan sih, kalo misalkan pertanyaan ini dilontarkan saat umur aku masih TK. Jaman dimana jadi seorang pegawai sipil itu punya nama yang harum. Tapi di jaman yang sudah makin menua ini?. Saat banyak jenis pekerjaan baru dibuat. Rasanya pemilihan kata itu terlalu menghakimi. Dan belum tentu kan kalo ternyata bapakku seorang pegawai sipil.

Sempat aku diam lumayan lama, sebelum akhirnya ngejawab pertanyaannya. Dia juga tanya kerja di bagian apa. Aku jawablah gak tau. Karna aku ngerasa itu sudah terlalu dalam bagi dia. Eh, dia malah nasehatin kalo harusnya kita tau kerjaan bapak kita. Aku tutup telinga aja deh. Kesel sama orang tipe interviewer model gini.

Setelahnya dia bilanglah kalo dia pengen kenal sama orang tua ku. Biar katanya kita bisa jadi keluarga. Oke, aku tau ini pernyataan yang rada sensitif untuk dilontarkan kepada orang yang belum dikenal. Tapi ya sudahlah, aku iyain aja. Aku kan belum tau apa yang bakal terjadi.

Perlu diketahui, bahwa aku disini jarang sekali untuk bicara selain ngejawab pertanyaan. Dan mesam-mesem seperti layaknya manusia yang berupaya ngehargai lawan bicaranya. Tapi sejujurnya otak aku berfikir dan mencerna tiap ucapan dari bapak itu.

Apalagi yang makin membuat aku bingung saat bapak itu bilang. Agar aku nganggep dia sebagai Om-nya. Terus dia bilang kalo dia mau kasih sesuatu buat aku. Terus dia tanyalah, aku udah punya SIM belum. Di jelasinlah, kalo aku butuh SIM tinggal ke kantor Samsat aja, terus bilang cari pak @$%&. Dia menyebutkan satu nama, tapi aku lupa jelasnya siapa.

Nah… ngebingungin kan. Tadi dia bilang dia kerja di Gresik. Yang aku ngebayanginnya, kemungkinan besar, di sebuah perusahaan ya. Tapi sekarang dia bilang kerja di Samsat yang ngurusin SIM. Janggal banget kan ya. Yang bener kerjanya dimana lho. Hhssss… aneh sekali. Aku berusaha keras ngecerna dan ngehubungin kata-katanya. Tapi ya sudahlah, aku belum menemukan pencerahan.

Setelah itu dia bicara banyak. Aku gak terlalu ingat urutan dia bilang apa aja. Tapi yang jelas ada beberapa kalimat yang intinya sama yang dia ucapkan berulang-ulang. Salah satu yang paling sering adalah dia bilang kalo pertemuan antara aku dan dia adalah sebuah mukjizat. Ada selang beberapa waktu dia ngucapin kata yang sama dengan tangan yang ngusap-ngusap ke matanya. Saat itu aku gak bisa mastiin apakah dia benar-benar nangis atau gak. Karna menurut pengalaman aku ngelihat cowok nangis. Cowok kalo nangis emang air matanya gak terlalu meleleh sebanyak air mata cewek. Jadi, saat itu aku anggap aja sibapak itu nangis beneran.Kemudian setelah bapak itu bilang, diem, gak ada suara. Selang beberapa waktu si bapak bilang lagi dan ngelakuin hal yang sama. Kemudian diem. Begitulah terus sampek terjadi beberapa kali.

Selain itu, sibapak tersebut juga ngebayarin ongkos bus aku. Waktu kondektur udah ngedeket. Aku siap-siaplah ngerogoh isi tas aku, buat ngambil duit. Seperti, yang aku ceritakan di part sebelumnya, kalo pakaian aku gak punya kantong. Jadi semua uang aku ada di tas. Eh, tapi si bapak itu ngelarang dan ngebayarin aku dengan duit yang ada di saku bajunya.

Sebagai manusia yang punya adab, ya pastinya, aku bilang makasih dong. Tapi si bapak itu ngelarang. Karena katanya gak boleh makasih sama Om sendiri. Aku iya-iyain ajalah.

Tapi kalo kalian tau, aku agak nyesel dibayarin. Ya enaksih gak keluar duit. Tapi masalahnya, dia bayarin aku buat turun di Bangil (Kabupaten Pasuruan) Bukan di terminal Pasuruan kota. Deg. Otak aku mulai berpikir, dan perasaanku mulai gak karuan. Padahal dia tau kan tempat tinggal aku dimana.

Terus, dia bilanglah, kalo turun dulu di Bangil. Terus ketemu kakaknya, sama ambil mobil. Baru nanti aku di antar pulang.

Hhhhh…. Entah aku harus bersikap gimana. Ada perasaan takut dan Sebagainya. Aku berusaha tenang. Tapi otakku mikir kemana-mana. Gak aneh-aneh sih. Aku cuma mikir gimana kalo ternyata aku diculik. Terus aku dikurung disuatu rumah, diikat. Yaampun, aku takut.

Tapi aku berusaha membesarkan hati. Karena kalo makin aku takut, makin aku gak bisa berbuat apa-apa. Lagian aku itu buka tipe perempuan menye-menye yang cuma diem aja di colek cowok. Aku gak ragu kok kalo harus mukul, nendang, nampar, bahkan ngelempar pisau kalo perlu. Masak ngelawan penculik yang lebih kurang ajar aku gak berani. Dan aku inget, ada gunting di tasku. Ya, sedikit akan membantu untuk senjata sepertinya. Walaupun, sebenarnya basic beladiri aku bodoh. Haha….

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan otak dan perasaan. Sampailah kita di Bangil. Isi bus sudah makin penuh sesak dengan banyak manusia. Sejujurnya, aku gak tau bakal turun dimana. Si bapak itu sih bilangnya di Swadesi (nama suatu tempat). Tapi aku benar-benar gak ngerti tempat itu dimana. Aku berusaha menerka-nerka sebenarnya dimana tempat itu. Sampai akhirnya bapak itu ngasih kode agar aku siap-siap untuk turun.

Belum sempat aku bergerak, dia udah nurunin tas ransel aku yang sedari tadi ada dipangkuanku. Dan dipakenya dipunggung. Berdirilah aku sambil bawa tas kresek ngikutin si bapak tadi ke pintu bus. Agak susah untuk berjalan karena bus udah sangat penuh. Dan rasanya waktu berputar sangat cepat saat itu. Bahkan saat turun aku sempat kesangkut sampek baju aku sedikit robek.

(Bersambung...)
Baca juga Part 1

Minggu, 01 Januari 2017

Mila Digendam (part 1)


Judulnya rada serem ya. Tapi sebenarnya gak seserem itu kok. Nah, kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku kena gendam.

Kalo ada yang gak tau gendam. Jadi, gendam itu adalah sebuah ilmu/kemampuan untuk mengendalikan pikiran seseorang. Gendam sering dikaitkan dengan sihir, ilmu hitam atau hal mistis lain. Seperti menggunakan jin sebagai perantara nya. Luar biasanya, sebenarnya ilmu gendam ini merupakan warisan luhur budaya Indonesia. Yang dulunya digunakan untuk pengobatan kebatinan seseorang. Tapi, sekarang ini gendam sudah banyak disalahgunakan.

Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa gendam ini mirip sekali dengan hipnotis. Tapi, sebenarnya, ada perbedaan yang amat mencolok antara gendam dan hipnotis.

Hipnotis, berasal dari kata hypno yang artinya adalah dewa tidur bangsa Yunani. Jadi, saat dihipnotis tubuh kita akan tertidur, alam bawah sadar dieksploitasi dengan diberikan sugesti-sugesti. Makanya orang yang dihipnotis biasanya saat tersadar akan lupa apa yang dia lakukan. Tapi sebenarnya, diri mereka sendirilah yang mengizinkan tiap sugesti-sugesti tersebut masuk ke dalam diri mereka. Karna tanpa ada kerjasama antara penghipnotis dan yang dihipnotis, hipnotis tidak akan berhasil.

Berbeda dengan gendam, tubuh kita tidak tertidur. Kita sadar benar dan mengingat apa yang terjadi. Tapi, disini, pikiran kita berusaha dikendalikan secara paksa. Bahkan jika yang akan digendam menolak pun, gendam masih bisa terlaksana.

Yah, begitulah penjelasan singkat dari gendam. Untuk lebih jelasnya kalian bisa browsing. Aku ambil penjelasan di atas dari sini.

Mari kita mulai ceritanya. Jadi saat itu adalah bulan puasa. Beberapa hari sebelumnya, aku sempat dikontak sama teman aku untuk makeup-in dia buat acara photoshoot. Ya jelas dong, aku gak bakal nolak kesempatan emas itu. Mulailah kita mencari hari yang pas. Dan kebetulan sekali, jadwal kuliah aku cukup menguntungkan harinya. Sehingga gak terlalu sulit untuk mencari waktu yang kosong. Akhirnya, kita sepakat dan menemukan hari yang ditentukan. Yeee….

Singkat cerita, sampailah aku di hari terakhir kuliah Minggu itu. Besoknya aku libur, dan akan pulang ke kota aku, Pasuruan. Aku berniat untuk berangkat sepulang kuliah. Naik angkutan umum, sendirian. Sendirian *yakk… jomblo*. Sebenarnya, saat itu kali ketiga aku pulang. Jadi gak terlalu menakutkan juga. Karna aku juga sudah tau, harus naik angkutan apa, jalannya kemana. Tapi tetep aja rasa resah itu ada ya. Kan kota besar kayak Surabaya ini rada mengerikan beritanya.

Apalagi pengalaman pertama kali aku pulang cukup bikin aku kesal. Jadi saat itu aku pulang bareng sama teman aku. Yang sebenarnya dia juga gak ngerti apa-apa. Kita yang gak ngerti apa-apa akhirnya dibohongi oleh kenet bison yang gak nganterin kami sampek tujuan. Kita diturunin di tengah jalan. Jelas dong aku ngomel-ngomel di pinggir jalan. Gak tau jalan juga. Akhirnya terpaksa kita oper naik angkutan lagi. Hhhh… udah nungguin panas-panasan dibohongi juga. Untung rugi ongkos 5 ribu aja. Sampek di terminal kita naik bus. Gak ada masalah sih. Sampek akhirnya setelah temanku turun, bus yang aku tumpangi mogok ditengah jalan. Sial. Untung lagi puasa. Sabar….

Kalo pulang yang kedua, cukup lancar. Gak ada masalah. Tapi aku pulang sendirian. Karena aku dan temanku memang sudah beda jadwal. Tapi buat diriku yang memang sudah lama berstatus jomblo sih gak terlalu masalah. Halah, sok strong, padahal rapuh. Huaaahhh….

Sehari sebelum kepulangan ketiga, aku cukup excited. Karna aku bakal main makeup di muka orang lagi, yeah….Malamnya aku tata segala macam peralatan kesayangan aku. Tas aku penuh dengan sekotak alat makeup, pallete eyeshadow, sekotak headpiece, sekaleng kuas, juga botol hairspray yang cukup gede. Ditambah juga lem tembak. Karena teman aku juga minta aku untuk bikin headpiece, jadi aku lembur juga bikin headpiece.

Nah, paginya, ceritanya aku mau berangkat kuliah. Seperti biasa, jam setengah tujuh aku mulai mandi. Selesai mandi, kebiasaan aku itu emang gak langsung ganti baju. Tapi aku dandan dulu, pake bb cream, ngalis tipis, dan aku ingat banget waktu itu aku pake lipstick matte warna nude peach gitu *info gak penting*. Oke, dan akhirnya selesai dandan keributanpun terjadi. Tinnn… tinnn…. Suara bus yang ngejemput aku dan teman asramaku datang. Shittt.

Ya, jadi setiap hari. Setiap aku pergi dan pulang kuliah. Aku dan teman-teman di asramaku itu dijemput dengan bus. Nah bus ini merupakan fasilitas dari tempat kuliah kami. Karena memang asrama kami cukup jauh dengan tempat kuliah. Jadi gak bisa dong kalo jalan kaki, haha. Antara kami dan driver juga sudah ada kesepakatan untuk penjemputan, satu jam sebelum kelas mulai. Jadi sebelum satu jam itu kami sudah harus siap-siap, kalo gak siap ya bye… tinggal.

Yak, balik lagi ke cerita. Saat itu tuh masih jam 7. Tapi bus udah dateng, padahalkan kami masuk jam 9. Jadi harusnya dijemput jam 8 kan. Lah kok ini, pagi banget udah dijemput. Diluar, teman aku udah heboh. Dan diriku, gak kalah heboh dong. Belum pake baju, eh udah dijemput. Ya udah deh, ambil baju sekenanya. Asal comot aja, yang penting pake baju, haha. Selesai pake baju. Aku baru sadar, aku pake baju formal banget. Pake blus merah *warna kesukaan aku*. Bawahan rok jeans yang berat sebenarnya. Issshhhh… aku lupa, aku mau pulang. Bakal susahkan kalo naik bus pake rok.

Tapi ah, yasudahlah, masa mau ganti baju lagi. Mobil jemputan udah didepan nih. Kalo ditinggal, berangkat sendiri dong.

Akhirnya aku memutuskan pergi dengan baju itu. Mengingat keterdesakan ini, dan segala ketidak mungkinannya. Untungnya barang-barang penting aku sudah masuk tas. Jadi tinggal merapikan barang yang belum masuk. Ditambah, aku bawa juga tas macrame bikinan aku yang masih separuh jadi. Ya kan aku pikir biar nanti kalo sampek rumah nganggur, bisa nyelesaiin tas itu. Dan karna buru-buru aku masukin kresek aja deh. Terus, langsung deh keluar dan masuk bus jemputan.

Nah, lanjut ke cerita. Kita cepetin ya, ceritanya kuliah udah selesai. Dan aku mau cari angkot buat ngantar aku ke terminal Bungurasih. Dari tempat kuliah aku harus jalan kaki ke tempat pangkalan angkot. Agak lumayan jauh sih. Tapi gak ada masalah buat aku. Karna aku enjoy aja kalo harus jalan kaki. Tapi entahlah aku mulai merasa agak rempong. Jalan pake rok yang lumayan berat. Dengan ransel gembul.

Dan ditengah jalan kaki aku mulai keingat sesuatu. O ya, kan dompet aku masih di tas ransel.

Jadi, sebenarnya, sebelum-sebelumnya aku itu emang udah selalu antisipasi. Tiap kali pulang selalu bawa uang seperlunya aja. Yang penting cukup buat ongkos. Dan aku gak simpem dompet di tas, tapi aku taruh di kantong celana. Termasuk hp juga aku taruh d kantong celana. Tapi, karna buru-buru. Aku gak sempet tuh nyisihin duit aku. Jadi bisa dibilang, aku bawa duit yang sangat berlebih banget kalo cuma buat ongkos. Dan sialnya, aku baru sadar kalo blus dan rok jeans aku itu gak ada kantongnya. Bencana. Bodohnya diriku. Tapi aku berusaha menenangkan diri aja. Udahlah, semua akan baik-baik aja kok. :) Padahal rada ngeri juga.

Akhirnya. Setelah naik angkot sampeklah aku di terminal. Aku turun, dan tukutuk nyebranglah aku dengan jembatan penyeberangan. Sampek depan gerbang keluar terminal, aku berdiri untuk nunggu bus disana. Nah, saat aku lagi enak-enak nunggu bus. Muncullah seseorang datang ke arah ku. Seorang bapak-bapak, pawakannya gede besar. Perutnya buncit kayak lagi hamil 8 bulan. Di dagu dan pipinya penuh bekas cukuran brewok yang baru tumbuh. Cukup tua, kayaknya lebih tua dari ayahku. Dia pake baju kaos berkerah, warna coklat muda garis-garis, kalo gak salah. Lengan pendek, dengan satu kantong di bagian dada. Di tangannya penuh banget rambut yang panjang-panjang. Sayangnya, aku lupa ciri rambut kepalanya gimana.

Nah, dia berhenti di sampingku dan tanya “mau kemana?”. Aku jawablah kota tujuanku. Dia bilanglah, kalo tujuannya sama. Aku diem aja. Sebenarnya aku males banget kalo ada orang tiba-tiba tanya. Apalagi dia kayak dengan sengaja nyamperin aku buat tanya gitu. males kan.

Lalu setelah itu, dia bilang, kalo aku mirip sama keponakannya. Aku cuma respon senyum sambil mesam-mesem palsu. Padahal dalam hati males banget disamain sama orang lain. Tapi katanya nya, keponakanya itu udah meninggal. Njrit, aku rada luluh juga. Akhirnya, terjawab juga alasan kenapa itu orang tiba-tiba nyamperin aku. Tapi sih aku tetep aja risih dan kesel, jadi tenggelam deh rasa luluh itu.

Aku keliatan kayak gak punya hati banget ya disini. Tapi ya begitulah aku. Aku gak mudah percaya sama orang yang gak dikenal. Aku juga bukan orang yang suka basa-basi.

Setelah itu dia cerita. Kalo dia baru aja pulang kerja dari Gresik, nah biasanya dia bawa mobil. Tapi karena mobilnya dibawa kakaknya (yang katanya,ibu dari keponakannya yang meninggal itu). Jadi naik bus. Terus, dia juga bilang sekali lagi kalo aku mirip keponakannya, bahkan meyakinkan kalo ada foto yang masih disimpan di mobilnya, dan itu mirip banget. 

Kayaknya, dia bisa ngebaca muka aku yang gak percaya sama dia. Haha.

Responku, seperti biasa, cuma mesam-mesem. Dan rasa risih yang aku rasakan meningkat. Makin kesel. Aku diam-diam geser-geser ngejauh dari bapak itu. Gila aja kan, orang yang belum kenal langsung bilang kayak gitu. Udah kayak cerita di sinetron aja, mirip-miripin orang. Tapi maaf banget ya pak, aku tidak merasa terenyuh sama sekali. Haha, kejamnya diriku yang gak punya perasaan ini. Mungkin, karena tau aku ngejauh. Si bapak itu akhirnya diem dan gak cerita lagi. Aku diem juga sambil berdoa supaya cepat ada bus yang lewat. Biar itu bapak cepet ngejauh.

Gak beberapa lama, si bapak itu nunjukin kalo bus jurusan ke Pasuruan sudah dateng. Bahkan dia menghentikannya, dan nungguin aku di pintu bus.

Aku sebenarnya tau. Tapi aku masih gak mau naik ke bus. Nunggu itu bapak naik duluan. Ada sekitaran beberapa detik aku gak bergerak dari tempat berdiri aku. Karna dia juga gak mau naik duluan.

Jadi, pemikiran aku itu. Kalo misalkan dia naik duluan. Kan dia bakal duduk dulu tuh. Lalu, aku bisa cari tempat duduk lain. Yang pasti, gak dideket dia. Sebaliknya, kalo aku naik duluan. Lalu aku gak bisa dapat tempat duduk di samping penumpang lain, kan bakal ada kesempatan si bapak itu buat duduk didekat aku. Jadi aku tunggu aja sampek dia masuk ke bus dulu. Biar gak lagi ngeliat dia. Males banget.

Ya, aku ngerti. Mungkin ada beberapa diantara kalian yang berfikiran aku berlebihan banget ya. Padahal kan mungkin itu bapak cuma pengen ngedeketin aku karna aku mirip keponakannya yang udah meninggal. Iya, aku ngerti, tapi seperti yang aku bilang sebelumnya. Kalo aku memang bukan tipe manusia yang bisa langsung ngeh dengan orang yang belum aku kenal. Aku gak suka dibawa-bawa ke masalah pribadi orang yang belum aku kenal. Kalo pun benar aku mirip dengan keponakannya, ya paling banter cuma mirip fisik kan. Tapi pribadi, sifat, karakter aku gak bisa dong dimiripin. Selamanya aku juga gak bakal bisa jadi keponakannya yang meninggal itu. Dengan alasan itulah aku ngejauh.

Akhirnya, karna tau aku gak bergerak sama sekali. Naiklah si bapak itu. Lega banget dong diriku. Dan dengan santainya, aku naik juga ke bus.

Ternyata, didalem bus itu penuh banget dengan orang. Gak kayak biasanya. Nah, sibapak itu ternyata belum duduk dan masih berdiri. Kenyataannya benar-benar diluar bayanganku. Itu bapak masih berdiri dan bahkan nunjukin aku kursi yang kosong. Awalnya aku mau nolak, dan mau cari kursi yang lain. Aku mau terus jalan ke depan buat cari kursi lain. Tapi itu bapak dengan badannya yang besar ngehalangin jalan aku. Aku mau mundur kebelakang karna aku liat ada kursi yang kosong disana. Tapi penumpang lain udah ngedesak buat naik. Terpaksa aku yang terhimpit kerumunan akhirnya duduk di kursi yang ditunjukkan bapak tersebut. Dan sibapak itu duduk disebelahku.

Hhhhh… bakal gak nyaman sepanjang perjalanan nih.


(Bersambung……)